24 Sya'ban 1445 H | Selasa, 5 Maret 2024
×
Mengenal Tumbuhan Kratom Bahan Herbal Yang Disebut Sebagai 'Narkotika Baru' dan Kontroversi di Indonesia
supernews | Senin, 11 Desember 2023 | 10:34:53 WIB
Editor : Budi Harjo | Penulis : Bachtiar RH Simanulang
Daun Kratom

Jakarta, (Supernews)- Kratom adalah tumbuhan yang daunnya belakangan ini ramai diperbincangkan publik, karena disebut-sebut sebagai bahan herbal yang dapat dijadikan sebagai narkoba jenis baru.

Melansir dari wikipedia, Kratom juga dikenal dengan nama Biek atau Ketum adalah sejenis tumbuhan dari famili Rubiaceae yang banyak terdapat di Afrika, di bagian utara dan tengah Semenanjung Malaysia serta di selatan Thailand. Di Thailand, tumbuhan ini disebut Kakuam, Ithang atau Thom.Kratom mempunyai zat opioid dan berakibat seperti obat perangsang.

Sementara dilansir dari laman Drug Enforcement Administration (DEA), kratom adalah pohon tropis yang berasal dari Asia Tenggara. Konsumsi daunnya menghasilkan efek stimulan (dalam dosis rendah) dan efek sedatif (dalam dosis tinggi), serta dapat menyebabkan gejala psikotik, ketergantungan psikologis, dan ketergantungan fisik.

Daun Kratom mengandung dua zat psikoaktif utama yaitu mitraginin dan 7-hidroksimitraginin. Daun ini juga dapat dihancurkan dan kemudian dihisap, diseduh sebagai teh, atau dimasukkan ke dalam kapsul gel.

Kratom memiliki sejarah penggunaan yang panjang di Asia Tenggara, di mana dikenal dengan berbagai nama seperti thang, kakuam, thom, ketum, dan biak. Di Amerika Serikat, penyalahgunaan kratom telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

 

Kontrovetsinya di Indonesia

Di Indonesia sejak tahun 2005 Kraton sudah mulai dibudidayakan dan dikomersialkan oleh para petani yang tergabung dalam Perkumpulan Pengusaha Kratom Indonesia (Pekrindo). Tidak tanggung-tanggung selama 18 tahun eksis di Indonesia, daun Kratom diyakini telah memberikan manfaat bagi perekonomian petani Kratom di Indonesia. Bagaimana tidak untuk saat ini saja, harga daun Kraton basah dari petani kepada pendulak mencapai Rp 5.000 per Kg.

Bahkan di tahun 2023 ini Kementrian Perdagangan (Kemendag) mencatat ekspor daun Kratom dari Indonesia untuk periode Januari-Mei 2023, nilai ekspor kratom Indonesia tumbuh 52,04% menjadi US$ 7,33 juta atau sekitar Rp 114,4 miliar (Rp 15.648/US$). Begitu pula dengan volume ekspornya, nilai pertumbuhan sebesar 51,49% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2022.

Masih bersadarkan data Kemendag RI, tercatat sebanyak 10 negara yang menjadi tujuan ekspor daun Kratom dari Indonesia saat ini yakni Amerika Serikat (AS), Jerman, India, Republik Czech, Jepang, Belanda, China, Korea Selatan, Taiwan dan Uni Ermat Arab.

Di Indonesia pada tahun 2020, melalui Keputusan Mentri Pertanian Nomor 104 Tahun 2020, tumbuhan Kraton pernah ditetapkan sebagai komoditas tanaman obat binaan budidaya di bawah Dirjen Hortikultura.

Namun 2 bulan kemudian keputusan itu dibatalkan dengan membuat revisi Kepmentan terbaru, yakni Kepmentan Nomor 591 Tahun 2020, dan dalam Kepmentan baru tersebut kratom dihilangkan dalam daftar tanaman obat. Perubahan itu terjadi karena dipengaruhi Surat Edaran Badan Pengawas Obat-batan dan Makanan (BPOM) Nomor HK.04.4.42.42.019.16.1740 Tahun 2016 tentang larangan penggunaan kratom obat tradisional suplemen kesehatan. Serta suarat pernyataan sikap dari Badan narkotika Nasional (BNN) terdahulu di tahun 2019 terkait peredaran dan penyalahgunaan kratom di Indonesia.

Sementara fakta berbeda ditemui berdasarkan hasil Lab Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan nomor R/06/XI/BL/BL.00.00/2015 yang dikeluarkan pada tanggal 31 November 2015, menyatakan Kratom negatif alias tidak mengandung Narkotika.

"Begitu juga dengan hasil Lab BNN di Balikpapan dengan nomor bukti 17974/2019/NNF/ yang hasilnya juga menyatakan Kratom negatif tidak mengandung narkotika. Berarti dengan 2 hasil itu dari BNN jelas kratom bukanlah produk yang berbahaya karena dari sisi kearifan lokal sudah digunakan masyarakat yang hidup di Kalimantan dan hingga saat ini belum ada ditemukan kasus yang melibatkan kratom," ujar Ketua Perkumpulan Pengusaha Kratom Indonesia (Pekrindo) Yosef, beberapa waktu lalu kepada supernews.co.id.

Disisi berbeda, Kepala BNN Irjen Pol. Marthinus Hukom menegaskan saat ini pihaknya masih terus mempelajari terkait bahaya dan tudingan terhadap tumbuhan Kratom yang disebut-sebut sebagai narkotika jenis baru. Karena itu lembaganya juga akan berkoordinasi dengan Kementrian Kesehatan, guna mengetahui seberapa besar manfaat daun kratom dagi dunia medis.

"Kalau memang lebih banyak manfaatnya, itu pertimbangan hukumnya apa, pertimbangan etisnya apa. Tapi kalau lebih banyak mudaratnya atau daya rusaknya, untuk apa kita lakukan. Tentu kita akan dengan keras melarangnya melalui Undang-undang yang berlaku, bahkan akan diberantas juga," kata Marthinus kepada supernews.co.id usai dirinya dilantik menjadi Kepala BNN di Istana Negara.

Sementara mengutip situs resmi BNN, sejak tahun 2020 BNN telah merekomendasikan tumbuhan Kratom untuk dimasukkan ke dalam narkotika golongan I dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Pada penjelasnannya disebut Kratom merupakan salah satu komoditas tanaman yang masuk ke dalam golongan I kategori narkotika. Selama ini kratom diperbolehkan diekspor ke luar negeri, salah satu pasarnya adalah Amerika Serikat.**


Index
Ada Nama Windy Idol, KPK Tetapkan Mantan Sekretaris MA Hasbi Hasan Tersangka Pencucian Uang
Keras! Anggota DPR ini Teriak Desak Hak Angket Kecurangan Pemilu di Hadapan Anak Buah Prabowo
Prabowo Berjanji Dibawah Kepemimpinannya Kelak Akan Banyak Investasi Masuk ke Indonesia
Lima Prajurit TNI Pelaku Penyerangan Polres Jayawijaya Ditetapkan Sebagai Tersangka
Demo di Depan DPR Ribuan Massa Teriak 'Jokowi Mundur! Allahu Akbar!'
Pemerintah Uni Eropa Denda Apple Rp31,4 Triliun, Spotify Dituding Jadi Biang Keroknya
Jokowi Bahas Tiga Hal Penting ini Bersama PM Kamboja
Jokowi Bahas Tiga Hal Penting ini Bersama PM Kamboja
Selasa, 5 Maret 2024 | 15:20:00 WIB
Diduga Terlibat Korupsi Rumah Dinas, KPK Cegah Sekjen DPR Indra Iskandar dan 6 Orang Lainnya ke Luar Negeri
DPR Setujui Badan Legislasi Bahas RUU Daerah Khusus Jakarta
Polisi Periksa Rektor Universitas Pancasila Selama 3 Jam Terkait Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Stafnya

supernews
Lonjakan Harga Pangan, Banyak Rumah Tangga di Indonesia Jatuh ke Garis Kemiskinan
Korup dan Berwatak Dinasti, Jokowi Terancam Dimakzulkan Dari Jabatan Presiden
Pembangunan IKN Ditargetkan Tuntas Akhir Tahun 2024, Meskipun Investor Asing Nol dan 30 Persen APBN Telah Terpakai
Mengenal Tumbuhan Kratom Bahan Herbal Yang Disebut Sebagai 'Narkotika Baru' dan Kontroversi di Indonesia
Index
Program Makan Siang Gratis Prabowo Subianto Dinilai Mengurangi Mutu Pendidikan
Pangdam XVII/Cenderawasih: Pembebasan Sandera di Papua Masih Berproses
Sekalipun Tanpa PDI-Perjuangan, 21 Maret Mendatang Fraksi NasDem DPR RI Akan Usulkan Hak Angket
Menko Polhukam Hadi Tjahjanto Silaturahmi ke MUI, Jaga Kondusifitas Jelang Pemilu 2024
Rapat Paripurna DPR RI Hanya Dihadiri 164 Anggota
Rapat Paripurna DPR RI Hanya Dihadiri 164 Anggota
Selasa, 5 Maret 2024 | 12:30:00 WIB
10 Anggota Gegana Dinyatakan Jadi Korban Ledakan di Mako Brimob Polda Jatim
Sidang Paripurna DPR, Dasco Bacakan Pidato Puan Soal Kenaikan Harga dan Gagalnya Food Estate
Pidato Puan Diwakili Dasco di Sidang Paripurna DPR RI, Singgung Etika Politik
Rapat Paripurna DPR RI, Dasco Pimpin Sidang, Puan Tak Hadir
Desakan Hak Angket Kian Menguat, Puan dan Cak Imin Tidak Hadir di Paripurna DPR Hari ini
pemerintahan
Jokowi Bahas Tiga Hal Penting ini Bersama PM Kamboja
Jokowi Bahas Tiga Hal Penting ini Bersama PM Kamboja
Selasa, 5 Maret 2024 | 15:20:00 WIB
Bahasa Indonesia Resmi Digunakan di  Sidang UNESCO, Nadiem Dorong Para Profesional Juga Menggunakannya
Jokowi Groundbreaking Telkom Smart Office di IKN: Transformasi Digital Menuju Kota World-Class ICT
Mendagri Minta Percepatan Transpormasi Identitas Kependudukan Digital Seluruh Warga Indonesia
Image Show
 
Pesawat Latih TNI AU Jatuh di Gunung Bromo
Kamis, 16 November 2023 | 23:42:18 WIB
Kabaharkam Bahas Netralitas Polri
Kamis, 16 November 2023 | 00:40:53 WIB
daerah
Lima Prajurit TNI Pelaku Penyerangan Polres Jayawijaya Ditetapkan Sebagai Tersangka
10 Anggota Gegana Dinyatakan Jadi Korban Ledakan di Mako Brimob Polda Jatim
Cegah Banjir Kembali Genangi Jakarta, Pemprov DKI Bentuk Satgas Sungai Ciliwung
Ledakan Hebat di Mako Brimob Polda Jatim Guncang Surabaya, Diduga Menyebabkan Korban
Politik
Demo di Depan DPR Ribuan Massa Teriak 'Jokowi Mundur! Allahu Akbar!'
Sekalipun Tanpa PDI-Perjuangan, 21 Maret Mendatang Fraksi NasDem DPR RI Akan Usulkan Hak Angket
Desakan Hak Angket Kian Menguat, Puan dan Cak Imin Tidak Hadir di Paripurna DPR Hari ini
Ambang Batas Parlemen 4% Dinilai Tak Adil untuk Partai Kecil

ekonomi
Prabowo Berjanji Dibawah Kepemimpinannya Kelak Akan Banyak Investasi Masuk ke Indonesia
Harga Eceran LPG 3Kg Dibandrol Rp 20 Ribu Hingga Rp 25 Ribu per Tabung,  Pertamina Jamin Stok Aman saat Ramadhan 2024
Program Mudik Gratis Bus Lebaran 2024 Resmi Dibuka: Daftar Kota Tujuan, Jadwal Pendaftaran, dan Syarat Terbaru
Badan Pangan Desak Para Kepala Daerah Terus Lakukan Gerakan Pangan Murah
Hukum
Ada Nama Windy Idol, KPK Tetapkan Mantan Sekretaris MA Hasbi Hasan Tersangka Pencucian Uang
Diduga Terlibat Korupsi Rumah Dinas, KPK Cegah Sekjen DPR Indra Iskandar dan 6 Orang Lainnya ke Luar Negeri
Polisi Periksa Rektor Universitas Pancasila Selama 3 Jam Terkait Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Stafnya
Polisi Tangkap Mafia Beras Yang Jual 2.000 Ton Beras Bulog Dengan Dokumen Palsu
Nasional
Pemerintah Uni Eropa Denda Apple Rp31,4 Triliun, Spotify Dituding Jadi Biang Keroknya
Program Makan Siang Gratis Prabowo Subianto Dinilai Mengurangi Mutu Pendidikan
Pangdam XVII/Cenderawasih: Pembebasan Sandera di Papua Masih Berproses
Menko Polhukam Hadi Tjahjanto Silaturahmi ke MUI, Jaga Kondusifitas Jelang Pemilu 2024

internasional
Pemerintah Uni Eropa Denda Apple Rp31,4 Triliun, Spotify Dituding Jadi Biang Keroknya
Paus Fransiskus Minta Perang Palestina Dihentikan, 'Tolong, Sudah Cukup'
Joe Biden: Militer AS Akan Mengirimkan Makanan dan Persediaan ke Gaza
Thailand Perketat Penggunaan Ganja Rekreasional hingga Akhir Tahun, Utamakan Untuk Medis
olahraga
Jelang Liga Champion Manchester City Vs FC Copenhagen: Dominasi City Tak Terkalahkan
Tapanuli Utara Berhasil Juarai Lomba Solu Bolon
Tapanuli Utara Berhasil Juarai Lomba Solu Bolon
Senin, 4 Maret 2024 | 05:18:00 WIB
Balapan final F1 Powerboat Danau Toba 2024 dimulai
Balapan final F1 Powerboat Danau Toba 2024 dimulai
Minggu, 3 Maret 2024 | 12:17:00 WIB
Al Nassr vs Al Hazm: Ronaldo Jadi Penonton, Pertandingan Berakhir 4-4


News Popular
Politik
Ekonomi
Hukum
Nasional
Super News
Daerah
CARI BERITA
Mengenal Tumbuhan Kratom Bahan Herbal Yang Disebut Sebagai 'Narkotika Baru' dan Kontroversi di Indonesia
supernews | Senin, 11 Desember 2023 | 10:34:53 WIB
Editor : Budi Harjo | Penulis : Bachtiar RH Simanulang
Daun Kratom
Pilihan Redaksi

Jakarta, (Supernews)- Kratom adalah tumbuhan yang daunnya belakangan ini ramai diperbincangkan publik, karena disebut-sebut sebagai bahan herbal yang dapat dijadikan sebagai narkoba jenis baru.

Melansir dari wikipedia, Kratom juga dikenal dengan nama Biek atau Ketum adalah sejenis tumbuhan dari famili Rubiaceae yang banyak terdapat di Afrika, di bagian utara dan tengah Semenanjung Malaysia serta di selatan Thailand. Di Thailand, tumbuhan ini disebut Kakuam, Ithang atau Thom.Kratom mempunyai zat opioid dan berakibat seperti obat perangsang.

Sementara dilansir dari laman Drug Enforcement Administration (DEA), kratom adalah pohon tropis yang berasal dari Asia Tenggara. Konsumsi daunnya menghasilkan efek stimulan (dalam dosis rendah) dan efek sedatif (dalam dosis tinggi), serta dapat menyebabkan gejala psikotik, ketergantungan psikologis, dan ketergantungan fisik.

Daun Kratom mengandung dua zat psikoaktif utama yaitu mitraginin dan 7-hidroksimitraginin. Daun ini juga dapat dihancurkan dan kemudian dihisap, diseduh sebagai teh, atau dimasukkan ke dalam kapsul gel.

Kratom memiliki sejarah penggunaan yang panjang di Asia Tenggara, di mana dikenal dengan berbagai nama seperti thang, kakuam, thom, ketum, dan biak. Di Amerika Serikat, penyalahgunaan kratom telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

 

Kontrovetsinya di Indonesia

Di Indonesia sejak tahun 2005 Kraton sudah mulai dibudidayakan dan dikomersialkan oleh para petani yang tergabung dalam Perkumpulan Pengusaha Kratom Indonesia (Pekrindo). Tidak tanggung-tanggung selama 18 tahun eksis di Indonesia, daun Kratom diyakini telah memberikan manfaat bagi perekonomian petani Kratom di Indonesia. Bagaimana tidak untuk saat ini saja, harga daun Kraton basah dari petani kepada pendulak mencapai Rp 5.000 per Kg.

Bahkan di tahun 2023 ini Kementrian Perdagangan (Kemendag) mencatat ekspor daun Kratom dari Indonesia untuk periode Januari-Mei 2023, nilai ekspor kratom Indonesia tumbuh 52,04% menjadi US$ 7,33 juta atau sekitar Rp 114,4 miliar (Rp 15.648/US$). Begitu pula dengan volume ekspornya, nilai pertumbuhan sebesar 51,49% jika dibandingkan periode yang sama tahun 2022.

Masih bersadarkan data Kemendag RI, tercatat sebanyak 10 negara yang menjadi tujuan ekspor daun Kratom dari Indonesia saat ini yakni Amerika Serikat (AS), Jerman, India, Republik Czech, Jepang, Belanda, China, Korea Selatan, Taiwan dan Uni Ermat Arab.

Di Indonesia pada tahun 2020, melalui Keputusan Mentri Pertanian Nomor 104 Tahun 2020, tumbuhan Kraton pernah ditetapkan sebagai komoditas tanaman obat binaan budidaya di bawah Dirjen Hortikultura.

Namun 2 bulan kemudian keputusan itu dibatalkan dengan membuat revisi Kepmentan terbaru, yakni Kepmentan Nomor 591 Tahun 2020, dan dalam Kepmentan baru tersebut kratom dihilangkan dalam daftar tanaman obat. Perubahan itu terjadi karena dipengaruhi Surat Edaran Badan Pengawas Obat-batan dan Makanan (BPOM) Nomor HK.04.4.42.42.019.16.1740 Tahun 2016 tentang larangan penggunaan kratom obat tradisional suplemen kesehatan. Serta suarat pernyataan sikap dari Badan narkotika Nasional (BNN) terdahulu di tahun 2019 terkait peredaran dan penyalahgunaan kratom di Indonesia.

Sementara fakta berbeda ditemui berdasarkan hasil Lab Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan nomor R/06/XI/BL/BL.00.00/2015 yang dikeluarkan pada tanggal 31 November 2015, menyatakan Kratom negatif alias tidak mengandung Narkotika.

"Begitu juga dengan hasil Lab BNN di Balikpapan dengan nomor bukti 17974/2019/NNF/ yang hasilnya juga menyatakan Kratom negatif tidak mengandung narkotika. Berarti dengan 2 hasil itu dari BNN jelas kratom bukanlah produk yang berbahaya karena dari sisi kearifan lokal sudah digunakan masyarakat yang hidup di Kalimantan dan hingga saat ini belum ada ditemukan kasus yang melibatkan kratom," ujar Ketua Perkumpulan Pengusaha Kratom Indonesia (Pekrindo) Yosef, beberapa waktu lalu kepada supernews.co.id.

Disisi berbeda, Kepala BNN Irjen Pol. Marthinus Hukom menegaskan saat ini pihaknya masih terus mempelajari terkait bahaya dan tudingan terhadap tumbuhan Kratom yang disebut-sebut sebagai narkotika jenis baru. Karena itu lembaganya juga akan berkoordinasi dengan Kementrian Kesehatan, guna mengetahui seberapa besar manfaat daun kratom dagi dunia medis.

"Kalau memang lebih banyak manfaatnya, itu pertimbangan hukumnya apa, pertimbangan etisnya apa. Tapi kalau lebih banyak mudaratnya atau daya rusaknya, untuk apa kita lakukan. Tentu kita akan dengan keras melarangnya melalui Undang-undang yang berlaku, bahkan akan diberantas juga," kata Marthinus kepada supernews.co.id usai dirinya dilantik menjadi Kepala BNN di Istana Negara.

Sementara mengutip situs resmi BNN, sejak tahun 2020 BNN telah merekomendasikan tumbuhan Kratom untuk dimasukkan ke dalam narkotika golongan I dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Pada penjelasnannya disebut Kratom merupakan salah satu komoditas tanaman yang masuk ke dalam golongan I kategori narkotika. Selama ini kratom diperbolehkan diekspor ke luar negeri, salah satu pasarnya adalah Amerika Serikat.**


Artikel Terbaru
Selasa, 5 Maret 2024 | 15:20:00 WIB
Selasa, 5 Maret 2024 | 12:30:00 WIB